Novel (Part 3 & 4)
PART 3
Waktu istirahat pun tiba kini Dira dan Zira ditambah 2 teman baru nya yakni Hani dan Gea. Sekarang mereka pun sedang berjalan di kantin. Saat melewati lorong sekolah tiba-tiba terlihat empat laki-laki yang sedang berjalan dari arah yang berlawanan. Dan Dira pun terkejut karena melihat laki-laki yang kini berada didepannya adalah laki-laki yang kemarin memberinya tumpangan.
Di sisi lain Davin yang juga saat itu melihat Dira menjadi senang tapi sedikit gugup.
Vin lu kenapa kok kaya girang gitu tanya Hari saat melihat ekspresi Davin yang berubah.
Gak papa emang ada yang salah ya elak Davin. Padahal dalam hatinya yang campur aduk antara senang dan sedikit gugup.
Oke
Kini Dira dan Davin hanya tnggal berjarak 1 meter dan Dira pun memutuskan untuk menyapanya dan berterimakasih atas kejadian kemarin.
"Hai kak." sapa Dira pada Davin yang juga saat itu melihat kearahnya. "Makasih banyak ya kak buat yang kemarin."
"Iya sama-sama"
"Makasih kak" ucap Dira sekali lagi. "Yaudah kalo gitu aku duluan ya kak." Dira dan teman-temannya pun berjalan menuju kantin.
Teman- temannya sudah mulai ribut menanyakan apa yang terjadi dengan Dira dan Kak Davin kemarin, apalagi Zira karena ia tau bahwa Davin itu cowok yang baik, pinter, rajin, ketua osis SMA 22 Bandung dan yang gak kalah penting dia itu ganteng banget.
"Dir kemarin kamu ada kejadian sama Kak Davin? Cerita dong sama kita" pinta Zira.
"Oh.. jadi kemarin itu aku nunggu mang Adi tapi gak dateng-dateng sampe hampir setengah enaman. Nah pas aku nunggu di depan kak Davin lewat terus nawarin aku untuk ikut bareng dia pulang. Jadi aku kemrin pulang bareng Kak Davin deh, sekian.” Setelah itu temannya hanya menganggguk tapi sedikit iri karena beruntung seorang perempuan yang di bonceng oleh Davin.
Ia dan ketiga temannya berjalan menuju gerbang dan sekolah saat itu sudah aak sepi karena bel sudah 30 menit yang lalu.
"Dir kamu pulang naik apa?" tanya Gea.
"Kayaknya naik angkot, soalnya gak ada yang jemput."
Dan tiba-tiba dari arah belakang ada suara laki-laki yang mungkin sangat mengagetkan keempat perempuan itu. Ya, itu suara Davin dikuti hari Beben dan Dika dibelakangnya.
"Dir, kamu pulang bareng aku aja gaada yang jemputkan dari pada nunggu kaya kemarin."
"Hah..e..e, gausah kak nanti ngerepotin lagi"
"Udah Dir mau aja toh daripada naik angkot ngabisin duit mending bareng kak Dav.." ucap Zira yang menggodai Dira. Dira pun langsung mmbungkam mulut Zira agar tidak melanjutkan kata-katanya karena itu bisa membuatya malu apalagi disini ada teman temannya Kak Davin.
"Tuh ayo pulang sama aku aja gak ngerepotin sama sekali kok, gue malah seneng." Ucap Davin yang kembali mengajak Dira untuk pulang dengannya.
"Beneran kak gak ngeepotin?" tanya Dira untuk sekedar meyakinkan dirinya.
"Iya lagian rumah kita searah kok."
"Yaudah, makasih ya kak."
"Cie cie..." sorak Beben di ikuti Hari sedangkan Dika hanya tersenyum melihat Davin yang seperti itu.
"Yaudah aku duluan ya temen-temen" ucap Dira sambil mlambaikan tangannya dan berjalan menuju motor Davin.
"Gue duluan ya" ucap Davin
"Ati-ati lu bawa anak orang" Davin pun menjawabnya dengan mengangkat tangannya dan mengisyaratkan bahwa ia berkata iya.
Ponsel Davin pun bergetar dan ternyata ia mendapat pesan dari ibunya untuk pulang karena ia diminta untuk mengambilkan dompetnya yang teringgal di sofa rumahnya. Dan ibunya kini berada di pusat perbelanjaan.
"Dir gak papa kan kalo misalkan aku harus ke rumah dulu soalnya dompet bundaku ketinggalan."
"Iya gak papa kok kak santai aja"
Davin pun melajukan motornya dengan kecepatan yang lumayan karena ia takut bunda menunggunya. Dan kini ia pun telah samppai di depan rumah dengan pagar yang cukup tinggi.
"Dir masuk aja dulu, aku mau sekalian ganti baju dulu, tunggu bentar ya"
"Iya kak"
"Waah... rumahnya gede banget dua kali lipat dari rumahku." Ucap Dira saat melihat ke segala penjuru rumah Davin.
Saat melihat-lihat Dira tidak sengaja melihat Foto yang ada dimeja dan ia merasa seperti pernah melihat anak kecil itu. Setelah berfikir Dira ingat bahwa itu adalah Yoga teman massa kecilnya. Dira pun heran mengapa foto Yoga ada dirumah Davin, apa Yoga itu adiknya?
PART 4
Davin kini telah selesai dan mengenakan kaos biru dongker pendek dipadu dengan jeans hitam yang menambah aura kegantengannya keluar.
"Dir ngapain?" tanya Davin yang melihat Dira sedang melihat foto kecilnya.
"Kak ini siapa, kok kaya temen aku sih namanya Yoga dulu waktu di Jakarta dia tetanggaan sama aku, tapi waktu kelas 5 SD dia pindah ke Bandung"
"Itu aku, bentar kamu jangan-jangan Rara" mendengar itu Dira pun terkejut bahwa Davin adalah teman masa kecilnya.
"Iya jadi kamu beneran Yoga" tanya Dira untuk memastikannya.
Davin pun tiba-tiba memeluk Dira dengan sangat erat. Karena ia sangat merindukan teman, adiknya, dan sekaligus cinta pertamanya. Dan sekarang Dira pun sangat bahagia karena bertemu dengan teman sekaligus yang dia anggap kakak sendiri.
"Yaudah kita ke bunda dulu kasian udah nunggu lama." Ajak Davin pada Dira.
Tak butuh waktu lama ia dan Dira sudah berada di tempat bundanya berada.
"Bun." Teriak Davin saat melihat bundanya yang berada tidak jauh dari kasir. Dengan keranjang di sampingnya yang penuh dengan belanjaannya.
"Oh. Hai" sapa bundanya. Dan kini bundanya sedang melihat gadis cantik yang berada di samping putranya.
"Ini siapa? Cantik sekali, kamu pacarnya Davin?"
"Hai tante, nama saya Adira Putri , saya bukan pacarnya Yoga, eh maaf Davin tante. Tante masih inget ga sama aku Rara?" tanya Dira pada Tante Tika. Terlihat dari raut wajah Tika yang mengingat sosok Rara atau Dira.
"Oh ini Rara. Ya Allah Rara kamu udah besar ya makin cantik lagi. Dari kapan kamu ada di Bandung? Lagi liburan atau...?" tanya tante Tika, dengan tangannya yang memegangi tanganku.
"Aku baru dua minggu disini dan aku bukan liburan, papah pindah tugas ke Bandung jadi aku sama bunda ikut papah dan sekarang tinggal di Bandung." Jelasnya kepada Tika.
"Oh bagus dong. Sekarang kamu tingal di daerah mana? Kamu satu sekolah dengan Davin?"
"Iya dia satu sekolah sama aku, terus Dira satu komplek kok sama kita cuman kalo dia di blok C nya" ucap Davin yang menyela perkataan Dira.
"Oh...kamu sering-sering aja main ke rumah. Temenin tante soalnya Davin biasanya di kamar terus jarang keluar, papahnya juga sibuk jarang dirumah. Nanti tante main deh kerumah kamu tante juga kangen banget sama Sinta (mamanya Dira)."
Mulanya memang Bunda mereka lah yang lebih dulu bersahabat jadi tak heran jika kini anaknya yang bersahabat
"Yaudah bun aku mau anterin Dira pulang dulu, kasian dari tadi aku malah ajak kesini dulu takut bundanya nyariin." ucap Davin.
"Oh iya yasudah hati-hati ya, jangan lupa sering-sering main kerumah ya." Tambah Tika saat Dira dan Davin hendak bepamitan.
"Iya tante aku bakalan sering main ke rumah kok, gak papa kan Kak?" tanya Dira sambil melirik ke arah Davin, dan dibalas dengan anggukan dan diiringi dengan senyumannya.
Memang hari ini kami pulang sedikit lebih cepat, jadi sekarang belum terlalu sore. Dan dalam perjalanan pulang kini Davin dan Dira hanya diam tidak ada yang memulai obrolan padahal dalam hati keduanya banyak sekali hal yang ingin diceritakan masing-masing.
"Dir aku panggil kamu sekarang enaknya apa ya? Dira atau Rara?" ucap Davin memulai pecakapan keduanya.
"Apa aja kak aku panggil kakak jadi Yoga aja ya biar lebih akrab."
Tanpa mereka sadari kini mereka menjadi lebih dekat satu sama lain, mungkin karena pada dasarnya mereka memang sudah bersahabat sejak kecil. Kini mereka berdua telah sampai di rumah Dira dan ternyata ada Bunda yang sedang menyiram tanaman, dan kini Davin pun memutuskan untuk menyapa tante Sinta. Dan segera turun dari motornya.
"Assalamualaikum bun. "
"Waalaikumsalam sayang."
"Bun tebak ini siapa? Bunda masih inget ga?"tanya Dira sedangkan Davin hanya tersenyu karena merasa canggung
"Siapa sih emang? Bunda gak tau." Jawab Sinta karena ia memang sudah sangat lupa dengan Yoga. Mengingat banyak yang berubah sekarang terutama penampilannya.
"Ini Yoga bun. Anaknya tante Tika." Jelas Dira dengan sangat excited.
"Oh Yoga kan? Gimana kabarnya sayang sehat kan? Wah kamu sekarang sudah besar yah dulu kamu itu masih kecil segini dengan tangan yang menyetarakan sedadanya.
"Alhamdulillah sehat tante.
"Kalian kok bisa ketemu gimana ceritanya?"tanya Sinta.
"Kita satu sekolah bun, dan dia kakak kelas aku." Ucap Dira dan Sinta hanya menangguk.
"Yaudah, masuk dulu gih makan kek ngapain, anggep aja rumah sendiri ya. Tanggung nih tante dikit lagi nyiramnya."
"Iya makasih tan, tapi aku mau langsung pamit aja tan, kapan-kapan aku pasti main lagi kesini kok." Sambi salim pada Sinta.
“ Yaudah ati-ati ya.” Ucap Sinta sambil mengelus pundak Davin
Dira :Kak.
Waktu istirahat pun tiba kini Dira dan Zira ditambah 2 teman baru nya yakni Hani dan Gea. Sekarang mereka pun sedang berjalan di kantin. Saat melewati lorong sekolah tiba-tiba terlihat empat laki-laki yang sedang berjalan dari arah yang berlawanan. Dan Dira pun terkejut karena melihat laki-laki yang kini berada didepannya adalah laki-laki yang kemarin memberinya tumpangan.
Di sisi lain Davin yang juga saat itu melihat Dira menjadi senang tapi sedikit gugup.
Vin lu kenapa kok kaya girang gitu tanya Hari saat melihat ekspresi Davin yang berubah.
Gak papa emang ada yang salah ya elak Davin. Padahal dalam hatinya yang campur aduk antara senang dan sedikit gugup.
Oke
Kini Dira dan Davin hanya tnggal berjarak 1 meter dan Dira pun memutuskan untuk menyapanya dan berterimakasih atas kejadian kemarin.
"Hai kak." sapa Dira pada Davin yang juga saat itu melihat kearahnya. "Makasih banyak ya kak buat yang kemarin."
"Iya sama-sama"
"Makasih kak" ucap Dira sekali lagi. "Yaudah kalo gitu aku duluan ya kak." Dira dan teman-temannya pun berjalan menuju kantin.
Teman- temannya sudah mulai ribut menanyakan apa yang terjadi dengan Dira dan Kak Davin kemarin, apalagi Zira karena ia tau bahwa Davin itu cowok yang baik, pinter, rajin, ketua osis SMA 22 Bandung dan yang gak kalah penting dia itu ganteng banget.
"Dir kemarin kamu ada kejadian sama Kak Davin? Cerita dong sama kita" pinta Zira.
"Oh.. jadi kemarin itu aku nunggu mang Adi tapi gak dateng-dateng sampe hampir setengah enaman. Nah pas aku nunggu di depan kak Davin lewat terus nawarin aku untuk ikut bareng dia pulang. Jadi aku kemrin pulang bareng Kak Davin deh, sekian.” Setelah itu temannya hanya menganggguk tapi sedikit iri karena beruntung seorang perempuan yang di bonceng oleh Davin.
□□□
Bel pulang sekolah pun berbunyi dan tadi ia mendapat pesan dari bundanya katanya mang Adi ga bisa jemput lagi soalnya istrinya yang ada di kampung akan segera melahirkan, alhasil man Adi mengambil cuti dulu selama sebulan kedepan untuk menemani istrinya.Ia dan ketiga temannya berjalan menuju gerbang dan sekolah saat itu sudah aak sepi karena bel sudah 30 menit yang lalu.
"Dir kamu pulang naik apa?" tanya Gea.
"Kayaknya naik angkot, soalnya gak ada yang jemput."
Dan tiba-tiba dari arah belakang ada suara laki-laki yang mungkin sangat mengagetkan keempat perempuan itu. Ya, itu suara Davin dikuti hari Beben dan Dika dibelakangnya.
"Dir, kamu pulang bareng aku aja gaada yang jemputkan dari pada nunggu kaya kemarin."
"Hah..e..e, gausah kak nanti ngerepotin lagi"
"Udah Dir mau aja toh daripada naik angkot ngabisin duit mending bareng kak Dav.." ucap Zira yang menggodai Dira. Dira pun langsung mmbungkam mulut Zira agar tidak melanjutkan kata-katanya karena itu bisa membuatya malu apalagi disini ada teman temannya Kak Davin.
"Tuh ayo pulang sama aku aja gak ngerepotin sama sekali kok, gue malah seneng." Ucap Davin yang kembali mengajak Dira untuk pulang dengannya.
"Beneran kak gak ngeepotin?" tanya Dira untuk sekedar meyakinkan dirinya.
"Iya lagian rumah kita searah kok."
"Yaudah, makasih ya kak."
"Cie cie..." sorak Beben di ikuti Hari sedangkan Dika hanya tersenyum melihat Davin yang seperti itu.
"Yaudah aku duluan ya temen-temen" ucap Dira sambil mlambaikan tangannya dan berjalan menuju motor Davin.
"Gue duluan ya" ucap Davin
"Ati-ati lu bawa anak orang" Davin pun menjawabnya dengan mengangkat tangannya dan mengisyaratkan bahwa ia berkata iya.
Ponsel Davin pun bergetar dan ternyata ia mendapat pesan dari ibunya untuk pulang karena ia diminta untuk mengambilkan dompetnya yang teringgal di sofa rumahnya. Dan ibunya kini berada di pusat perbelanjaan.
"Dir gak papa kan kalo misalkan aku harus ke rumah dulu soalnya dompet bundaku ketinggalan."
"Iya gak papa kok kak santai aja"
Davin pun melajukan motornya dengan kecepatan yang lumayan karena ia takut bunda menunggunya. Dan kini ia pun telah samppai di depan rumah dengan pagar yang cukup tinggi.
"Dir masuk aja dulu, aku mau sekalian ganti baju dulu, tunggu bentar ya"
"Iya kak"
"Waah... rumahnya gede banget dua kali lipat dari rumahku." Ucap Dira saat melihat ke segala penjuru rumah Davin.
Saat melihat-lihat Dira tidak sengaja melihat Foto yang ada dimeja dan ia merasa seperti pernah melihat anak kecil itu. Setelah berfikir Dira ingat bahwa itu adalah Yoga teman massa kecilnya. Dira pun heran mengapa foto Yoga ada dirumah Davin, apa Yoga itu adiknya?
PART 4
Davin kini telah selesai dan mengenakan kaos biru dongker pendek dipadu dengan jeans hitam yang menambah aura kegantengannya keluar.
"Dir ngapain?" tanya Davin yang melihat Dira sedang melihat foto kecilnya.
"Kak ini siapa, kok kaya temen aku sih namanya Yoga dulu waktu di Jakarta dia tetanggaan sama aku, tapi waktu kelas 5 SD dia pindah ke Bandung"
"Itu aku, bentar kamu jangan-jangan Rara" mendengar itu Dira pun terkejut bahwa Davin adalah teman masa kecilnya.
"Iya jadi kamu beneran Yoga" tanya Dira untuk memastikannya.
Davin pun tiba-tiba memeluk Dira dengan sangat erat. Karena ia sangat merindukan teman, adiknya, dan sekaligus cinta pertamanya. Dan sekarang Dira pun sangat bahagia karena bertemu dengan teman sekaligus yang dia anggap kakak sendiri.
"Yaudah kita ke bunda dulu kasian udah nunggu lama." Ajak Davin pada Dira.
Tak butuh waktu lama ia dan Dira sudah berada di tempat bundanya berada.
"Bun." Teriak Davin saat melihat bundanya yang berada tidak jauh dari kasir. Dengan keranjang di sampingnya yang penuh dengan belanjaannya.
"Oh. Hai" sapa bundanya. Dan kini bundanya sedang melihat gadis cantik yang berada di samping putranya.
"Ini siapa? Cantik sekali, kamu pacarnya Davin?"
"Hai tante, nama saya Adira Putri , saya bukan pacarnya Yoga, eh maaf Davin tante. Tante masih inget ga sama aku Rara?" tanya Dira pada Tante Tika. Terlihat dari raut wajah Tika yang mengingat sosok Rara atau Dira.
"Oh ini Rara. Ya Allah Rara kamu udah besar ya makin cantik lagi. Dari kapan kamu ada di Bandung? Lagi liburan atau...?" tanya tante Tika, dengan tangannya yang memegangi tanganku.
"Aku baru dua minggu disini dan aku bukan liburan, papah pindah tugas ke Bandung jadi aku sama bunda ikut papah dan sekarang tinggal di Bandung." Jelasnya kepada Tika.
"Oh bagus dong. Sekarang kamu tingal di daerah mana? Kamu satu sekolah dengan Davin?"
"Iya dia satu sekolah sama aku, terus Dira satu komplek kok sama kita cuman kalo dia di blok C nya" ucap Davin yang menyela perkataan Dira.
"Oh...kamu sering-sering aja main ke rumah. Temenin tante soalnya Davin biasanya di kamar terus jarang keluar, papahnya juga sibuk jarang dirumah. Nanti tante main deh kerumah kamu tante juga kangen banget sama Sinta (mamanya Dira)."
Mulanya memang Bunda mereka lah yang lebih dulu bersahabat jadi tak heran jika kini anaknya yang bersahabat
"Yaudah bun aku mau anterin Dira pulang dulu, kasian dari tadi aku malah ajak kesini dulu takut bundanya nyariin." ucap Davin.
"Oh iya yasudah hati-hati ya, jangan lupa sering-sering main kerumah ya." Tambah Tika saat Dira dan Davin hendak bepamitan.
"Iya tante aku bakalan sering main ke rumah kok, gak papa kan Kak?" tanya Dira sambil melirik ke arah Davin, dan dibalas dengan anggukan dan diiringi dengan senyumannya.
Memang hari ini kami pulang sedikit lebih cepat, jadi sekarang belum terlalu sore. Dan dalam perjalanan pulang kini Davin dan Dira hanya diam tidak ada yang memulai obrolan padahal dalam hati keduanya banyak sekali hal yang ingin diceritakan masing-masing.
"Dir aku panggil kamu sekarang enaknya apa ya? Dira atau Rara?" ucap Davin memulai pecakapan keduanya.
"Apa aja kak aku panggil kakak jadi Yoga aja ya biar lebih akrab."
Tanpa mereka sadari kini mereka menjadi lebih dekat satu sama lain, mungkin karena pada dasarnya mereka memang sudah bersahabat sejak kecil. Kini mereka berdua telah sampai di rumah Dira dan ternyata ada Bunda yang sedang menyiram tanaman, dan kini Davin pun memutuskan untuk menyapa tante Sinta. Dan segera turun dari motornya.
"Assalamualaikum bun. "
"Waalaikumsalam sayang."
"Bun tebak ini siapa? Bunda masih inget ga?"tanya Dira sedangkan Davin hanya tersenyu karena merasa canggung
"Siapa sih emang? Bunda gak tau." Jawab Sinta karena ia memang sudah sangat lupa dengan Yoga. Mengingat banyak yang berubah sekarang terutama penampilannya.
"Ini Yoga bun. Anaknya tante Tika." Jelas Dira dengan sangat excited.
"Oh Yoga kan? Gimana kabarnya sayang sehat kan? Wah kamu sekarang sudah besar yah dulu kamu itu masih kecil segini dengan tangan yang menyetarakan sedadanya.
"Alhamdulillah sehat tante.
"Kalian kok bisa ketemu gimana ceritanya?"tanya Sinta.
"Kita satu sekolah bun, dan dia kakak kelas aku." Ucap Dira dan Sinta hanya menangguk.
"Yaudah, masuk dulu gih makan kek ngapain, anggep aja rumah sendiri ya. Tanggung nih tante dikit lagi nyiramnya."
"Iya makasih tan, tapi aku mau langsung pamit aja tan, kapan-kapan aku pasti main lagi kesini kok." Sambi salim pada Sinta.
“ Yaudah ati-ati ya.” Ucap Sinta sambil mengelus pundak Davin
□□□
Kini Davin sedang rebahan di kasurnya, sesaat ia melihat sekilas ponselnya karena tadi bergetar, dan benar saja ternyata ada notif dari Dira.Dira :Kak.
Komentar
Posting Komentar